Ali berjalan sendirian hari itu. Ria, sahabat baiknya yang setiap hari selalu bersamanya hari ini tidak masuk sekolah. Sudah tiga hari ini ia dirawat di rumah sakit. Kemarin Ali bersama Bu Guru Yanti dan teman-teman sekelasnya sempat menjenguknya. Ia terlihat sangat senang bertemu Ali dan teman-temannya yang lain. Suasana rumah sakit yang biasanya tenang, hari itu jadi sedikit gaduh karena ulah anak-anak kelas empat SD Pelita Harapan. Salah seorang perawat malah sempat menegur mereka karena mengganggu ketenangan di rumah sakit itu.
Tetapi pada hari itu juga Ali mengetahui suatu hal. Ia sempat mendengar percakapan Ibu Guru Yanti dengan bunda Ria. Ternyata kondisi Ria saat ini lebih parah dari kelihatannya. Dokter yang merawatnya telah memvonis bahwa ia terkena radang otak dan harus segera dioperasi. Tetapi operasi yang akan dilakukan cukup beresiko. Saat mendengarnya, Ali merasa sangat khawatir akan kondisi sahabat baiknya itu. Ia pun berjanji untuk menjenguk Ria setiap hari sampai ia sembuh. Kebetulan Rumah Sakit Harapan Kita yang merupakan tempat Ria dirawat berada tidak jauh dari rumahnya dan setiap pulang sekolah Ali selalu melewatinya. Hari ini dia juga berniat untuk kesana.
Saat sampai di kamar tempat Ria dirawat, Ali bertemu bunda Ria yang hendak keluar membeli makanan.
“Eh, ada Ali. Kamu sama siapa kesini, Nak?” tanya bunda Ria.
“Saya datang sendiri, Bu. Boleh tidak saya menjenguk Ria hari ini?” kata Ali.
“Boleh saja. Bunda senang kamu mau menjenguk Ria. Kalu siang hari, hanya bunda saja yang menemani Ria. Sebab ayah Ria sedang pergi bekerja. Ria pasti senang kalau kamu bisa datang tiap hari. Ya sudah, kamu masuk sana. Bunda mau beli makanan untuk makan siang. Kamu mau juga?” kata bunda Ria.
“Tidak usah, bu. Saya sudah makan tadi di sekolah.”
“Oh, ya sudah. Kalau begitu tolong temani Ria sebentar, ya.”
Ali pun masuk ke dalam kamar Ria. Hanya sebuah kamar kelas dua yang berisi 3 orang. Saat melihat Ali, Ria terlihat senang sekali. Ali pun langsung menghampiri Ria.
“Ali, kamu sama siapa kesini?” tanya Ria.
“Aku sendirian, Ri. Habisnya aku bosan pulang kerumah sendirian. Makanya kamu cepat-cepat sembuh, dong. Supaya kita bisa pulang sekolah bersama-sama lagi,” kata Ali.
“Aku juga maunya begitu, Al. Tapi belum boleh. Kata dokter, aku masih harus menjalani proses penyembuhan lebih lama,” kata Ria.
“Memangnya kamu sakit apa, sih?” tanya Ali.
“Aku juga tidak tahu, Al. Cuma kadang-kadang kepalaku sering pusing dan pusingnya itu benar-benar parah. Aku sampai menangis kalau merasakannya,” jawab Ria.
Sudah jelas sekarang bagi Ali. Bunda Ria belum mengatakan kepada Ria tentang penyakit yang sebenarnya ia derita. Ali pun memutuskan untuk tidak akan memberitahukan kepada Ria. Ia khawatir nantinya Ria menjadi cemas dan tambah sakit.
“Oh iya, besok aku mau pindah dari rumah sakit ini, Al,” kata Ria.
“Kemana?”
“Ke Rumah Sakit Medika yang ada di tengah kota. Katanya disana peralatan dan obat-obatnya lebih lengkap. Dokternya juga lebih ahli,” kata Ria.
“Berarti aku tidak bisa menjenguk kamu setiap hari, dong?” kata Ali.
“Iya. Tapi aku sih berharap kamu mau jenguk aku disana sebelum aku sembuh. Mau, kan?” tanya Ria.
“Ya sudah. Nanti aku naik sepeda, deh kesana. Oh iya, nanti kalau aku kesana mau aku bawakan apa?” Kata Ali.
“Hmm... Tidak usah. Kamu bisa datang juga aku sudah senang, kok,” kata Ria.
“Tapi aku ingin membawakan sesuatu untuk kamu. Siapa tahu nanti kamu jadi cepat sembuh,” kata Ali.
“Hmm… Sebenarnya aku ingin sekali makan buah pear yang besar dan berwarna hijau. Tapi aku tidak ingin merepotkan bunda. Setiap hari bunda harus menjagaku disini. Ayah juga setelah pulang kerja langsung kesini dan menginap. Aku kasihan pada mereka, Al. Apalagi besok aku akan dipindahkan. Pasti biayanya sangat besar,” kata Ria.
“Ya sudah. Nanti akan aku belikan buah itu untuk kamu,” kata Ali.
“Tidak usah, Al. Nanti saja kalau aku sudah sembuh akan aku beli sendiri,” kata Ria.
“Tidak apa-apa. Kan supaya kamu lebih cepat sembuhnya,” kata Ali.
“Terima kasih, ya. Kamu memang baik. Aku senang punya sahabat seperti kamu.”
Kemudian mereka pun mengobrol. Tak berapa lama kemudian, bunda Ria masuk ke dalam kamar dan membawakan makanan.
“Wah, sudah siang Ri. Aku pulang dulu, ya. Ibuku sendirian di rumah. Pasti ibu cemas karena aku belum pulang. Tadi aku belum izin untuk menjenguk kamu hari ini,” kata Ali.
“Oh, ya sudah. Hati-hati di jalan, ya Al,” kata Ria.
“Loh, kamu tidak mau makan siang disini dulu?” tanya bunda Ria.
“Tidak usah Bu. Nanti di rumah saja. Saya pamit dulu, ya bu,” jawab Ali
“Terima kasih ya sudah mau menemani Ria. Salam untuk ibumu,” kata bunda Ria.
“Iya, nanti saya sampaikan. Permisi.”
Ali langsung pulang kerumahnya. Setelah makan siang, ia langsung ke kamarnya dan mengambil uang simpanan yang ia letakkan dalam kaleng bekas susu bubuk.
“Aku harus membelikan buah itu untuk Ria. Aku khawatir kalau Ria tidak bisa sembuh, dan ini merupakan permintaan terakhirnya,” gumam Ali dalam hati.
“Akh… Aku tidak boleh berpikir seperti itu. Pokoknya aku harus membelikan buah itu supaya Ria bisa cepat sembuh,” pikirnya lagi.
***
Keesokan harinya. Ali pulang ke rumah dengan agak tergesa-gesa. Hari ini ia berniat akan pergi ke rumah sakit tempat Ria dirawat. Setelah berganti pakaian dan makan siang, Ali langsung mengambil sepedanya lalu pergi ke toko buah di ujung jalan. Tetapi buah yang dicari tidak ada. Setelah beberapa toko buah dikunjunginya, ternyata buah pear hijau yang ingin dibelinya tak ditemukannya. Tetapi seorang bapak penjual buah mengatakan bahwa ia sebaiknya membeli buah tersebut di supermarket.
Akhirnya Ali pun bergegas menuju supermarket yang tidak jauh dari rumah sakit tempat Ria dirawat. Ternyata benar, disana dijual buah pear hijau yang besar dan segar. Ali langsung mengambil beberapa buah dan menimbangnya. Setelah membayar di kasir, ia pun bergegas menuju ke rumah sakit. Ia mengayuh sepedanya dengan kencang. Tetapi karena terburu-buru, ia tidak dapat mengendalikan sepedanya ketika seorang bapak membuka pintu mobil.
Braakkkk…
Ali pun terlempar ke tengah jalan. Velg sepedanya bengkok dan rantainya putus. Orang-orang yang berada di sekitar situ langsung menolong Ali yang masih meringis kesakitan dan membawanya ke tepi jalan. Bapak yang membuka pintu mobil tadi juga langsung menghampirinya. Untung bapak tadi tidak marah walaupun pintu mobilnya lecet karena tertabrak sepeda Ali.
“Lain kali hati-hati, ya Nak. Ayo sekarang saya antar kamu ke rumah sakit,” ajaknya.
“Maaf, Pak. Saya sedang terburu-buru menuju rumah sakit. Ingin mengantarkan sesuatu untuk teman saya,” kata Ali.
Ia pun lansung teringat dengan buah pear yang tadi dibawanya. Kantung pembungkusnya masih tersangkut di sepeda, tetapi buahnya bececeran di jalan raya. Sayang sekali buah-buah yang dibawanya rusak karena terlindas mobil. Ali pun langsung murung.
“Ayo cepat naik ke dalam mobil. Luka kamu harus segera dibersihkan dan diobati. Nanti bisa infeksi,” kata bapak tadi.
Ali pun masuk ke dalam mobil. Di atas jok mobil, ia menemukan sebuah pear hijau yang besar. Ali langsung mengambilnya dan bertanya kepada bapak itu.
“Ini punya Bapak?”
“Bukan. Itu pasti buah yang kamu bawa tadi,” jawab bapak itu.
Ali pun tersenyum. Buah itu pasti miliknya. Ternyata ada juga buah yang terlempar ke dalam mobil saat tabrakan tadi. Ali langsung menggenggam buah itu erat-erat.
“Setidaknya hari ini aku masih bisa membawakan buah untuk Ria,” ujarnya dalam hati.
Setelah sampai di Rumah Sakit Medika, Ali langsung ditolong oleh seorang perawat. Setelah lukanya dibersihkan dan diobati, Ali meminta maaf dan berterimakasih kepada bapak yang tadi membawanya ke rumah sakit. Ia berjanji akan lebih berhati-hati lagi.
Setelah itu, ia langsung mencari kamar tempat Ria dirawat. Sampai di lantai tiga rumah sakit, Ali bertemu bunda Ria. Ternyata menurut bunda Ria, Ria baru selesai dioperasi. Dan operasinya berjalan lancar. Ria akan sadar dalam dua jam.
Ali pun duduk di depan kamar Ria sambil terus menggenggam buah pear hijau terakhir miliknya. Setelah menunggu selama sekitar dua jam, Ali diizinkan masuk ke kamar tempat Ria dirawat. Dilihat sahabatnya sedang berbaring di tempat tidur. Kepalanya ditutup perban. Rambut indahnya yang panjang dan mengembang sudah dicukur habis. Tetapi Ria tetap bisa tersenyum manis ketika Ali masuk.
“Loh, kamu kenapa Al? Kok tangan kamu terluka? Kamu berkelahi, ya?” tanya Ria cemas.
“Tidak apa-apa, kok. Ceritanya panjang. Nanti aku ceritakan kalau kamu sudah sembuh. Sekarang kamu makan ini dulu, ya,” ujar Ali sambil memberikan sebuah pear hijau besar dan segar kepada Ria.
“Wah, kamu baik sekali Al. Terima kasih banyak, ya. Kamu memang sahabatku yang paling baik,” ujar Ria dengan senang.
Kemudian Ali pamit pulang kepada Ria dan bundanya. Kata bunda Ria, Ali tidak boleh terlalu lama menjenguk Ria karena ia harus banyak beristirahat setelah menjalani operasi. Dua pekan kemudian Ria pun diizinkan pulang ke rumah dan bisa kembali bersekolah bersama Ali dan teman-temannya.