Minggu, 16 Januari 2011

Petualangan Hati

 Aku berjalan menyusuri jalanan yang gelap dan sunyi malam ini. Tak punya tujuan dan tanpa arah tapi terus berjalan. Di sekelilingku kehidupan malam kota Jakarta sangat berbeda dengan yang kulihat di acara Paranoia. Tak ada gadis-gadis berbaju mini mengapit rokok menthol di tangan kanan, sedang di tangan lain segelas martini. Yang ada, seorang ibu bersama dua putri kecilnya tidur beralas kardus bekas, berselimut kain lusuh. Kasihan, andai mereka tak harus mengalami kehidupan seperti itu.
Tapi tiba-tiba aku sadar. Ini kehidupanku juga sekarang. Sendirian. Jauh dari kenyamanan rumah. Jauh dari Papa dan Bunda. Tak lagi menikmati roti isi selai kacang favoritku tiap pagi. Tak lagi main PS3 atau dengar musik lewat i-pod. Tak lagi ber-sms ria, browsing, chatting, atau menelepon teman-teman dengan Blackberry kesayanganku.
Semuanya telah kutinggalkan sejak 2 hari yang lalu. Tidur di teras masjid tiap malam, sarapan pagi, makan siang, dan malam dengan roti isi coklat yang sempat dibeli dengan sisa uang terakhir, minum air dari keran di tempat wudhu, kucoba biasakan diri dengan semua itu. Alhamdulillah, tadi siang bisa makan sepiring nasi dengan sayur kacang dan sepotong tempe setelah menolong seorang ibu yang hampir tertabrak mobil. Sebagai rasa terimakasihnya, ibu itu memberikan sebuah nasi bungkus yang harusnya diberikan kepada suaminya dirumah. Aku pun menolak. Tapi ibu itu bersikeras. Ditaruhnya nasi bungkus tersebut dalam genggamanku lalu pergi begitu saja dan menghilang di kerumunan.
                Tapi haruskah hari ini aku harus menggantungkan hidupku pada kesialan orang lain? Aku harus bisa mendapatkan pekerjaan hari ini. Tapi kerja apa? Ijasah SD, SMP, SMA, dan bermacam sertifikat yang kukoleksi masih tersimpan rapi di laci kamar di rumah megahnya Papa. Yasudah, yang penting hari ini aku berusaha dulu.

***

                “Aku pergi dulu, ya Bun. Titip salam buat Papa,” pamitku kepada Bunda siang itu dua hari yang lalu.
                “Memangnya kenapa, sih kamu harus pergi? Papa dan Bunda kurang memberi perhatian kepada kamu? Atau kamu sudah tidak sayang lagi sama Papa dan Bunda?” ujar Bunda yang tak rela melihat anak semata wayangnya pergi begitu saja.
                “Kan sudah aku bilang berkali-kali. Aku sayang sama Bunda, aku sayang sama Papa. tapi aku bosan dengan semua kemewahan ini. Aku ingin merasakan keterasingan, kesendirian, ketidakpunyaan, dan kemandirian. Aku janji, setelah pulang aku akan menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya. Tak lagi manja, tak lagi merepotkan Papa dan Bunda,” ujarku meyakinkan.
                “Tapi setidaknya kamu bawa bekal yang cukup. Bawa handphone kamu, bawa uang yang banyak, bawa pakaian yang cukup,” kata Bunda.
                “Kan aku sudah bilang, Bunda. Aku tak ingin membawa sedikitpun kemewahan. Aku ingin merasakan jadi orang yang tak punya apa-apa. Aku pasti pulang, kok. Bunda jangan khawatir. Tolong jangan larang aku. Bunda kan pernah janji akan menuruti semua permitaanku,” ujarku lagi.
                “Ya sudah, Bunda tak bisa melarang kamu lagi. Kamu hati-hati ya, Nak,” kata Bunda sambil meneteskan airmatanya.
                Kucium pipi Bunda dan kupeluk dengan erat tubuh gemuknya. Tak terasa airmataku pun jatuh dari pipi. Betapa sayang Bunda kepadaku. Tapi hasratku untuk segera berpetualang sudah tak bisa kubendung lagi. Aku pun pergi meninggalkan Bunda, Papa, rumah, Surabaya. serta segala kemewahan yang diimpikan hampir setiap orang.
***
                Jam sudah menunjukkan pukul 11 siang, tapi aku masih belum mendapat jalan untuk bisa makan hari ini. Kumasuki setiap rumah makan yang ada, berusaha mendapatkan pekerjaan sebagai tukang cuci piring atau sekedar mengepel. Tapi semua pekerjaan rendah tersebut pun membutuhkan ijasah.
Apa pula gunanya berbahasa Indonesia yang baik, menghapal rumus-rumus kimia, fisika, matematika, dan pemahaman biologi saat kita mencuci piring dan mengepel lantai? Haruskah kita menghitung diameter piring, lalu menghubungkannya dengan komposisi larutan sabun dan besarnya gaya yang diberikan? Tidak! Yang harus kita lakukan hanyalah mecelupkan spons dalam sabun, memerasnya, kemudian mengelap piring sampai bersih, membilasnya, lalu mengeringkannya. Tapi tetap saja butuh ijasah. Aneh…
Tapi sebuah titik cerah saat seorang manager rumah makan Padang bersedia mempekerjakanku. Tanpa ijasah, tanpa pengalaman, dan tanpa uang sogokan. Kerjaku hanya menjadi petugas cleaning service, kerja 8 jam sehari, dapat bayaran 100 ribu rupiah seminggu belum termasuk uang makan 10 ribu rupiah sehari. Upah yang sangat minim. Yang harusnya bisa aku dapatkan 3 kali lipat tanpa harus bekerja keras, hanya minta ke Bunda. Tapi Alhamdulillah, aku bisa makan siang ini.
Seminggu sudah aku menjalani hidup seperti ini. Tinggal di kos-kosan sempit berdua dengan seorang teman baru, Andi. Seorang pelayan di rumah makan yang sama. Dengan perjanjian untuk membayar uang sewa kamar bersama-sama.
***
Hidupku sudah jauh lebih baik dari 4 hari yang lalu. Lewat Andi, aku menikmati berbagai cerita. Perjalanan panjang dari Makassar, uang habis karena dicopet, dirazia kamtib waktu tidur di emperan toko, dan berbagai kisah mendebarkan lainnya. Ia berencana mengumpulkan uang yang banyak, barulah pulang ke rumah orangtuanya serta melamar Tati, gadis impiannya di sana.
Setelah mendapatkan gaji keenam, satu setengah bulan, aku mulai bosan. Aku harus mencari petualangan baru. Maka kutinggalkan rumah makan itu dan Andi, sahabat baikku. Berjalan menyusuri malam gelap lagi, tidur di masjid lagi, dengan bekal sisa uang gaji 30 ribu rupiah. Sebenarnya aku tak banyak menikmati uang gajiku. Hanya kubelikan dua potong baju serta untuk makan setiap hari. Sisanya kusimpan. Terakhir, saat akan meninggalkan Andi, kudapatkan uangku tinggal 180 ribu rupiah. Kuambil 30 ribu rupiah, siapa tahu kubutuhkan di prjalanan selanjutnya, sisanya kumasukkan kedalam celengan ayam besar milik Andi tanpa sepengetahuannya.

***

                Siang itu, saat aku hendak mencari pekerjaan baru menyusuri jalan ramai ibukota. Terdengar suara berteriak dari kejauhan.
                “Aryo…!!!Aryo…!!!”
                Aku menoleh.
                “Sissy, ngapain kamu disini?” tanyaku heran melihat seorang sahabat baikku di Surabaya tiba-tiba ada di hadapanku.
                “Lo tuh yang lagi ngapain? Pergi dari rumah nggak bilang-bilang ke gue. Gue tuh udah seminggu di Jakarta. Tinggal dirumah nenek gue. Tiap hari keliling-keliling muterin Jakarta,” katanya.
                “Enak, ya lagi liburan. Tapi aku nggak lagi liburan sekarang. Maaf juga nggak bilang-bilang. Tapi aku sudah lama ingin melakukan perjalanan ini,” jelasku singkat sambil melangkah pergi.
                “Eh…eh… Jangan pergi dulu, lo!” kata Sissy sambil menarik tas ranselku.
                “Siapa bilang gue disini liburan. Gue disini karena disuruh bokap lo. Gue harus bisa nyari lo dan nyuruh lo balik ke rumah. Maaf, Ar… Tapi petualangan lo harus berakhir disini,” ujar Sissy dengan tatapan mata serius.
                “Aku nggak bisa, Sis. Aku masih belum menemukan tujuanku. Jadi aku harus melanjutkan perjalanan ini,” ujarku lagi.
                “Entah apalah tujuan lo. Tapi kalo lo nggak ikut gue, mungkin aja lo nggak bisa ngeliat nyokap lo untuk terakhir kalinya,” kata Sissy mengejutkanku.
                “Bunda kenapa, Sis? Apa yang terjadi?”
                “Nyokap lo seminggu yang lalu jatoh di kamar mandi. Abis itu dibawa kerumah sakit. Ternyata keadaannya udah parah. Dia pengen banget ketemu lo lagi. Makanya gue disuruh ke Jakarta buat nyari lo,” kata Sissy menjelaskan.
                Aku tertegun. Setelah berpikir sejenak, aku memutuskan untuk ikut Sissy pulang ke Surabaya. Setelah Bunda sembuh akan kulanjutkan petualangan ini, pikirku.
                “Yasudah, kalu begitu aku ikut kamu pulang ke Surabaya. Akan kurawat Bunda sampai sembuh. Nanti kalau Bunda sembuh, baru aku kesini lagi,” ujarku.
                “Nggak bisa, Ar…” ucap Sissy dengan suara yang pelan dan tertahan kali ini.
Tiba-tiba Sissy memelukku dengan sangat erat dan menangis. Aku bingung. Lalu Sissy melanjutkan.
                “Bokap lu tadi pagi nelpon. Katanya nyokap lo udah meninggal. Jadi gue harus nemuin lo hari ini juga. Keluarga lo di Surabaya semuanya nungguin lo. Mereka baru akan makamin nyokap lo setelah lo pulang, supaya lo bisa ngeliat wajah nyokap lo dulu. Lo yang sabar, ya Ar…” kata Sissy masih sambil terisak-isak di pelukanku.
                Sissy pun melepaskan pelukannya dariku. Lalu kuusap airmata sahabatku itu dengan saputangan lusuh milikku.
                “Yaudah, sekarang lo ikut gue. Kita kerumah nenek gue dulu, abis itu kita langsung naik taksi ke bandara,” kata Sissy.
                Kami pun langsung meluncur dengan sebuah mobil Chevy Spark yang dibawa Sissy. Setelah mandi dan berganti baju dirumah nenek Sissy, kami naik taksi ke bandara dan langsung meluncur dengan pesawat ke Surabaya.
                “Sissy… Makasih banyak buat semuanya, ya. Kamu udah mau susah-susah nyari aku. Kalau bukan karena kamu, mungkin aku nggak akan tahu kabar Bunda. Aku anak yang egois, ya? Cuma nurutin hasratku sendiri tanpa mikirin orang-orang yang aku sayangin. Aku ngerasa bersalah, Sis…” kataku saat kami duduk bersebelahan di kursi pesawat.
                Tak terasa airmata menetes pelahan di pipiku. Makin lama makin deras, tapi tetap tanpa suara. Tangisan laki-laki.
                “Yang sabar, ya Ar… Mencoba berusaha untuk jadi orang yang lebih baik itu nggak salah, kok. Mungkin emang harus kejadiannya kayak gini. Anggap sebagai suatu cobaan dan ujian, bukan sebagai hukuman. Bukan salah lo kalo tiba-tiba nyokap lo pergi. Tapi emang ini yang harus terjadi. Karena kita nggak pernah tau kapan kita dipanggil. Bisa aja besok gue yang harus pergi ninggalin lo. Iya, nggak?” kata Sissy berusaha menghiburku, tapi hiburan yang aneh.
                Aku mengusap airmataku, kemudian mencoba mengingat-ingat kenangan yang kulewati bersama Bunda. Sesaat tersenyum, tapi menangis lagi saat menyadari Bunda sekarang telah tiada. Tak berapa lama kemudian, kami sampai di Surabaya. setelah sampai dirumah, aku langsung memeluk Papa yang sedang membaca surat Yaasiin di depan jenasah yang telah dibungkus kain kafan, siap dikebumikan.
                Kulihat wajah Bunda yang pucat dan tubuhnya yang telah terbujur kaku. Kucium pipinya, kemudian bersama Papa, Om Rio dan beberapa orang lainnya, aku mengangkat jenasah Bunda menuju tempat pemakaman di dekat rumahku. Setelah membacakan doa, aku pun pulang ke rumah dan beristirahat.

***

                Seminggu sudah aku kembali ke rumah. Kenangan tentang Bunda masih saja terus berkelana di alam pikiranku. Kulihat tas ranselku di pojok kamar. Mungkin sudah saatnya hatiku kembali berpetualang. Mencari kedamaian, ketenangan, kesahajaan, kemandirian. Kutulis sepucuk surat untuk Papa, kuletakkan di kamarku, dan kembali kutinggalkan rumah.

Untuk Papa…
                Pa… maaf aku harus pergi lagi. Aku nggak bisa terus diam di rumah dan menikmati semua kemewahan yang Papa berikan. Mungkin jiwa petualang Papa waktu masih muda dulu mengalir juga di darahku. Aku selalu senang mendengarkan cerita Papa waktu aku masih kecil. Tapi sekarang aku nggak bisa hanya membayang-bayangkan cerita-cerita itu. Aku harus menjalaninya sendiri. Aku harus tahu bagaimana rasanya. Supaya aku juga bisa menjadi orang yang hebat seperti Papa. Nanti kalau aku sudah mendapatkan semua pelajaran berharga yang aku inginkan, aku pasti pulang ke rumah lagi. Terima kasih, ya Pa... Aku sayang Papa…
-Aryo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar